AQUA adalah produk DANONE yang merupakan salah satu perusahaan yang
paling setia kepada israel sehingga di anugerahi JUBILEE AWARD (Jubilee
Award adalah penghargaan tertinggi yang diberikan oleh zionis israel
kepada kelompok/ perorangan/ pengusaha/ perusahaan yang dalam kurun
waktu yang lama telah membantu dan mendonasikan profit usahanya kepada
zionis israel.) pada tahun 1998.Dan ini merupakan salah satu produk dari
agenda kelompok ELIT HITAM dunia yang ingin mengurangi 93% populasi
penduduk dunia secara jangka panjang dengan memasukkan senyawa FLOURIDE
ke dalam air minum di seluruh dunia.
Flouride yang selama ini
kita kenal di dalam pasta gigi ternyata adalah senyawa racun yang dalam
penggunaanya dapat menyebabkan kanker tulang,masalah
persendian,penurunan kadar estrogen dan testosteron dan yg mengejutkan
adalah perusakan gigi yaitu menguning dan terkorosi nya enamel gigi.
Sekarang,
pergilah ke toko atau super market yang ada. Carilah racun tikus. Dan
lihatlah, apa bahan utama pembuat racun tikus? Yakni Sodium Fluoride.
Ini adalah zat kimia ionik yang paling beracun setelah Potasium
Dikromat. Saat ini, perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam
bisnis air minum dalam kemasan diketahui telah memasukkan fluoride ke
dalam produk air minum dalam kemasan mereka. Hal ini dilakukan tanpa
membubuhkan keterangan sedikit pun dalam label kemasannya.
Dunia medis juga telah mengetahui jika fluoride juga digunakan sebagai
obat anti depresan, yang menghilangkan agresifitas dan motivasi manusia,
termasuk menurunkan hasrat untuk berkembang-biak. “Fluoride memang
tidak memiliki faktor yang menguntungkan secara biologis, ” tegas Dr.
Rima Laibaow dari Natural Solutions Foundation
Dan taukah anda minuman kemasan yang selama ini kita minum
mengandung flouride bahkan dalam website aqua menjelaskan: Kesehatan
tubuh tergantung pada berbagai aspek, salah satu aspek penting adalah
pemenuhan mikronutrisi, yaitu vitamin dan mineral. Kecukupan vitamin
telah menjadi hal yang diperhatikan, kini berbagai vitamin ditemukan
dalam bentuk instan (pil dan tablet). Sedangkan mineral, hingga kini
belum lengkap dibuat dalam bentuk instan. Hanya mineral utama, seperti;
kalsium atau zat besi yang bisa ditemukan pilnya. Padahal masih banyak
mineral yang tak kalah pentingnya dibutuhkan oleh tubuh, seperti;
yodium, kalium, atau flouride.
Untuk lebih yakin kan anda coba anda siram air Aqua ke tanaman
setiap hari dan bedakan dengan tanaman yang di siram air tanah. Maka
tanaman yang di siram aqua akan mati kering seperti hangus.
Tapi,
pertanyaannya adalah, datang dari manakah air bersih yang dijual oleh
Aqua sehingga sekarang manusia perlu membayar hanya untuk mendapatkan
air bersih?
-) Kisah dari Sekitar Sumber Mata Air
Salah
satu dari sekian banyak mata air yang dieksploitasi dan disedot
habis-habisan oleh Aqua hingga hari ini adalah mata air Kubang yang
terletak di kampung Kubang Jaya, desa Babakan Pari yang berada di kaki
gunung Salak, Sukabumi bagian utara.
Sumber mata air di Kubang
mulai dieksploitasi oleh Aqua sejak sekitar tahun 1992-an. Kawasan mata
air Kubang yang sebelumnya merupakan kawasan pertanian, kemudian oleh
Aqua diubah menjadi kawasan seperti hutan yang tidak boleh digarap oleh
warga setempat. Sekeliling kawasan mata air Kubang dipagari tembok oleh
Aqua dan dijaga ketat oleh petugas keamanan sewaan selama 24 jam penuh
setiap harinya. Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan
tersebut tanpa surat ijin yang ditandatangani langsung oleh pimpinan
kantor pusat Aqua Grup di Jakarta.
Pada awalnya air yang
dieksploitasi oleh Aqua adalah air permukaan, yaitu air yang keluar
secara langsung dari mata air tanpa dibor. Namun pada tahun 1994, Aqua
mulai mengeksploitasi air bawah tanah dengan cara menggali jalur air
dengan mesin bor bertekanan tinggi.
Sejak air di mata air Kubang
disedot secara besar-besaran oleh Aqua, banyak perubahan yang dirasakan
oleh warga sekitar. Yang paling terasa adalah menurunnya kualitas dan
kuantitas sumber daya air di desa, dan ini berdampak buruk pada
kehidupan warga desa itu sendiri. Penurunan daya dukung air ini tampak
dari mulai munculnya masalah-masalah terkait dengan pemanfaatan sumber
daya air di tingkat komunitas sejak sumber mata air Kubang dikuasai oleh
Aqua. Salah satu masalahnya adalah kurangnya ketersediaan air bersih
untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari termasuk air untuk minum,
memasak, mencuci, mandi dan lain-lain.
Masalah ini dapat dilihat
dari keadaan-keadaan sumur-sumur milik warga yang menjadi sumber
pemenuhan akan kebutuhan air bersih sehari-hari. Sekarang, tinggi muka
air sumur milik kebanyakan warga maksimal hanya tinggal sejengkal saja
atau sekitar 15 cm. Bahkan beberapa sumur sudah menjadi kering
samasekali. Padahal sebelum Aqua menguasai air di sana, tinggi muka air
sumur biasanya mencapai 1-2 meter. Dulu, hanya dengan menggali sumur
sedalam 8-10 meter saja, kebutuhan air bersih untuk sehari-hari sudah
sangat terpenuhi. Sekarang, warga perlu menggali sampai lebih dari 15-17
meter untuk mendapatkan air bersih. Dulu, warga tidak memerlukan mesin
pompa untuk menyedot air untuk keluar dari tanah, sekarang dalam sekali
sedot menggunakan mesin pompa, air hanya mampu mencukupi 1 bak air saja
dan setelah itu sumurnya langsung kering. Bahkan pada beberapa kampung,
apabila dalam sebulan saja hujan tidak turun, sumur menjadi kering sama
sekali. Padahal dulu, saat musim kemarau memasuki bulan ke-6 pun tidak
membuat air sumur menjadi kering.
Masalah ini dapat dilihat dari
keadaan-keadaan sumur-sumur milik warga yang menjadi sumber pemenuhan
akan kebutuhan air bersih sehari-hari. Sekarang, tinggi muka air sumur
milik kebanyakan warga maksimal hanya tinggal sejengkal saja atau
sekitar 15 cm. Bahkan beberapa sumur sudah menjadi kering samasekali.
Padahal sebelum Aqua menguasai air di sana, tinggi muka air sumur
biasanya mencapai 1-2 meter. Dulu, hanya dengan menggali sumur sedalam
8-10 meter saja, kebutuhan air bersih untuk sehari-hari sudah sangat
terpenuhi. Sekarang, warga perlu menggali sampai lebih dari 15-17 meter
untuk mendapatkan air bersih. Dulu, warga tidak memerlukan mesin pompa
untuk menyedot air untuk keluar dari tanah, sekarang dalam sekali sedot
menggunakan mesin pompa, air hanya mampu mencukupi 1 bak air saja dan
setelah itu sumurnya langsung kering. Bahkan pada beberapa kampung,
apabila dalam sebulan saja hujan tidak turun, sumur menjadi kering sama
sekali. Padahal dulu, saat musim kemarau memasuki bulan ke-6 pun tidak
membuat air sumur menjadi kering.
Masalah lainnya lagi adalah,
kurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi pertanian. Masalah
ini dialami oleh para petani dari hampir semua kampung di kawasan desa
Babakan pari. Saat ini para petani di beberapa kampung tersebut saling
berebut air karena ketersediaan air yang sangat kurang. Bahkan beberapa
sawah tidak kebagian air dan mengandalkan air dari air hujan saja.
Akibatnya, banyak sawah kekeringan pada musim kemarau dan tentu saja hal
ini menimbulkan masalah perekonomian yang cukup serius bagi para
petani.
Hal serupa juga terjadi di Polanharjo, Kabupaten Klaten,
Jawa Tengah. Aqua mengeksploitasi air secara besar-besaran dari tengah
sumber mata air di Kabupaten Klaten sejak 2002. Sama dengan apa yang
terjadi di desa Babakan Pari, mayoritas penduduk di daerah tersebut juga
menopang kehidupannya dari pertanian. Karena debit air menurun sangat
drastis sejak Aqua beroperasi di sana, sekarang para petani terpaksa
harus menyewa pompa untuk memenuhi kebutuhan irigasi sawahnya. Untuk
kebutuhan sehari-hari, penduduk harus membeli air dari tangki air dengan
harga mahal karena sumur-sumur mereka sudah mulai kering akibat
“pompanisasi” besar-besaran yang dilakukan oleh Aqua. Hal ini sangat
ironis mengingat Kabupaten Klaten merupakan wilayah yang kaya akan
sumber daya air. Di satu Kabupaten ini saja sudah terdapat 150-an mata
air.
Aqua memiliki izin untuk mengambil air sebanyak 18 liter per
detik melalui sumur bor di dekat mata air Sigedang, yang juga merupakan
air sumber irigasi untuk lahan pertanian di lima kecamatan. Ironisnya,
saat kurangnya air irigasi ini memicu konflik di antara petani itu
sendiri dalam soal perebutan sumber air yang semakin mengering demi
sawah-sawah mereka, Aqua malah mengajukan permintaan menaikkan debit
dari 18 liter menjadi 60 liter per detik. Salah satu hal yang juga
menjelaskan mengapa ide swasembada pangan semakin menjadi angan-angan
belaka.